Tubuh PNS Penuh Belatung
Kamis, 09 Juli 2009
 
TENAYANRAYA — Kholil (48), seorang PNS kantor Lurah Kulim, Kecamatan Tenayan Raya ditemukan tewas membusuk di dalam kamar rumahnya, Rabu (8/7) sekitar pukul 06.00 WIB. Penyebab kematian warga Perumahan Kulim Permai, Blok H, RT 2/RW 3, Kulim, Tanayan Raya ini diduga kuat akibat penyakit komplikasi yang diderita sejak tuga tahun lalu.
Terungkapnya kematian ayah tiga orang anak ini bermula saat warga sekitar mencium bau tak sedap di rumah korban. Selanjutnya warga mendatangi rumah dan bertanya kepada istri korban Hariyati tentang keberadaan suaminya.

Saat itu Hariyati hanya mengatakan bahwa suaminya berada di dalam kamar lagi tidur. Ketika warga bersama Ketua RW 3, M Yatim melihat di dalam kamar, ternyata sebagian tubuh Kholil sudah dikerumuni ulat. ‘’Bagian kepala, tangan dan bagian lainnya sudah berulat,’’ jelas M Yatim kepada Pekanbaru MX di kediaman Kholil.

Lalu kenapa isteri Kholil cuek dan tidak mengetahui hal itu? Dijelaskan M Yatim, istri Kholil sudah empat tahun belakangan memiliki penyakit depresi (kurang waras), sehingga tidak mengetahui apa yang dialami suaminya.

‘’Dua orang anaknya sekolah di Selat Panjang. Sementara yang tinggal bersamanya hanya anak bungsu yang masih berumur tiga tahun. Jadi tidak ada yang tahu kondisi almarhum,’’ papar M Yatim.

Bahkan, saat warga sudah ramai datang, isterinya tetap memasak di dapur. Dia seakan tidak perduli dengan yang menimpa keluarga. Warga yang sudah maklum, selanjutnya melaporkan ke pihak keluarga lain, Polsekta Tenayan Raya dan pihak rumah sakit.

Tidak lama berselang, anggota Polsekta Tenayan Raya tiba di lokasi untuk melakukan identifikasi. Saat akan dibawa ke rumah sakit untuk divisum, keluarga menolak dan meminta agar langsung dilakukan pemakaman.

Ini dikarenakan pihak keluarga sudah menyadari penyakit yang diderita Kholil. Begitu juga penyakit yang dialami isterinya empat tahun belakangan. ‘’Warga juga sudah mengetahui penyakitnya itu,’’ jelas Kapolsek Tenayan Raya, AKP Efendi S kepada Pekanbaru MX melalui Kanit Reskrim, Ipda Supriyanto.

Ditanya sudah berapa lama Kholil tewas, Kanit Reskrim menduga Kholil tewas sudah lebih dari tiga hari. Selama menderita penyakit komplikasi, Kholil sudah tiga tahun tidak masuk kantor. ‘’Gajinya saja diantar ke rumahnya,’’ ujar Kanit Reskrim.

Sudah Lama Sakit Parah
Kematian Kholil (48) dengan kondisi sudah berulat, benar-benar menggemparkan warga Perumahan Kulim Permai, Blok H, RT 2/RW 3, Kulim, Tanayan Raya. Kepergian mantan Ketua RT 2/RW 3 ini membuat warga kehilangan sosok pria ramah yang peduli dengan warga.

‘’Dia sosok orang mudah bergaul. Makanya warga memilih dia sebagai ketua RT. Tapi sejak menderita penyakit, maka dia berhenti dan warga milih ketua lain,’’ kata M Yatim, Ketua RW 3 kepada Pekanbaru MX di kediaman Kholil.

Simpatinya warga terhadap almarhum terlihat dari ramainya warga yang datang melayat ke rumahnya. Bau menyengat yang masih kuat tidak membuat semangat warga bergotong-royong untuk meyiapkan perlengkapan pemakaman almarhum.

Di sisi lain, petugas kamar mayat RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tampak berada di dalam rumah Kholil. Mereka dengan seksama membersihkan jenazah korban yang dihinggapi ulat. ‘’Kasihan ya, Pak Kholil itu,’’ begitulah segelintir ucapan warga yang terdengar Pekanbaru MX saat mengunjungi kediaman Kholil.

Meski memiliki penyakit yang cukup parah, semasa hidupnya Kholil tetap beraktivitas. Kegiatan yang dilakukan hanya sekadar-nya saja, tidak seaktif sewaktu kondisi yang sehat. ‘’Hari Minggu kemarin, dia masih menyapu di depan rumahnya. Tapi hanya sekadarnya saja,’’ papar M Yatim.

Diduga, almarhum yang terakhir menjabat sebagai Kasi Kesra Lurah Kulim ini tewas usai dari menyapu atau sehari setelah hari Minggu. ‘’Kuat dugaan setelah hari Minggu atau keesokan harinyalah,’’ sebutnya.=MXN
   
Send to friend
Related articles

Komentar  RSS feed comment
 

 


Menambah Komentar
Nama
E-mail
Judul  
Comment
 
Maksimal Karakter: 600
   Konfirmasi ke E-Mail
   
   

Tidak ada komentar



mXcomment 1.0.9 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelum   Berikut >