|
Di tengah hiruk-pikuknya musik dangdut remix, tampak sesosok wanita tengah meliuk-liukkan tubuhnya dengan hot, sesuai dengan hentakan musik. Bibirnya yang merah melantunkan lagu dengan suara lumayan merdu, mengikuti bait-bait syair yang muncul silih berganti di layar televisi berukuran besar.
Ria (33) nama bekennya, sudah setahun lebih bekerja sebagai pemandu karaoke. Bermodalkan tubuh yang masih langsing dan vokal yang terbilang oke, janda beranak dua ini masih mampu menggoda pria-pria pemuja musik malam untuk melepaskan stresnya.
Jika kaum pekerja biasanya berangkat pagi, pulang sore hari, Ria justru baru bangun tidur di sore hari. Ia kemudian mandi dan bersiap-siap untuk menerima tamu di kafe tempat ia bekerja, yang baru mulai buka selepas Isya.
‘’Sejak remaja saya sudah menyanyi, bahkan pernah bercita-cita jadi penyanyi,’’ungkap wanita berbintang Taurus ini. Gadis kelahiran Sumbar ini mengaku sering menjadi pengisi pentas seni sekolah, juga menjadi penyanyi tamu di acara pernikahan. Suaranya yang bening dan tinggi menjadi andalan. ‘’Saya sering dibilang Nicky Astria atau Nike Ardilla baru,’’senyumnya mengenang.
Orang tuanya yang tergolong kaya dan terpandang di desanya mengizinkan Ria untuk mereguk kenikmatan berpesta dan menghibur dengan organ tunggal sejak SMP. Sayang, kebebasan yang diberikan oleh keluarganya itu tidak berhasil dijaga baik oleh Ria. Ia hamil saat duduk di kelas 3 SMA, oleh pemain organ tunggal tempat ia bernaung.
Laki-laki berinisial Das itu memang bertanggung jawab, tetapi hanya dengan sekadar menikahi Ria. Begitu sang jabang bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir, sikapnya yang dari sejak awal perkawinan sudah acuh tak acuh, berubah menjadi beringas. Das kerap memukuli Ria.
Apapun yang Ria lakukan, yang Ria katakan, selalu salah. Tak terhitung berapa kali Ria melarikan diri dari rumah mungilnya —yang dibelikan orang tua Ria— ke rumah saudara dan teman-temannya. Das akhirnya semakin marah dan melarang Ria bergaul dengan siapapun.
Ria mencoba mempertahankan pernikahan mereka yang telah retak. ‘’Bagaikan meniti rambut dibelah tujuh,’’ujar Ria menggambarkan sulitnya menjalani hidup perkawinan bersama Das. Begitupun, wanita tegar ini akhirnya meledak juga.
Saat anak tunggal mereka, Rio, berusia 10 tahun, ia mulai menjadi sasaran kemarahan ayahnya yang sering mabuk. Entah karena keuangan mereka yang sulit, atau karena menyesali jalan hidupnya yang tak bisa bersatu dengan wanita yang betul-betul dicintainya, Das sering melampiaskan kekesalannya dengan memaki dan memukuli Rio. ‘’Padahal wajah Rio persis seperti ayahnya, kok tega dia memukulinya?’’tanya Ria kepada Pekanbaru MX.
Ria langsung angkat kaki dan menggugat cerai Das. Dititipkannya anaknya pada keluarganya, lalu ia hijrah ke Pekanbaru
mengikuti kawan SMA-nya yang sudah menikah dan bermukim duluan di Kota Bertuah. Empat bulan menumpang di rumah Nita (nama samaran), temannya itu, Ria malah khilaf dan melakukan hal terlarang. Ia tergoda suami sang sahabat.
Mengetahui dirinya hamil, Ria langsung membuat alasan untuk memisahkan dirinya dari keluarga Nita. ‘’Sampai sekarang dia tak tahu aku beranak gara-gara suaminya,’’bisik Ria penuh rahasia. Dengan modal uang yang masih dikirimkan oleh ibunya tersayang, Ria mencoba hidup sendiri dengan buah hatinya yang kedua, Toni.
Dari jadi penjaga toko sepatu, penjaga toko pakaian, sampai pembantu rumah tangga pernah dijalaninya. Namun, penghasilan yang dianggapnya terlalu rendah membuatnya terus menyerah. (bersambung) =MG5 |