Suamiku Lupa Diri
Selasa, 17 Agustus 2010
Ramadan ini seharusnya menjadi bulan yang tepat bagi Bang Husien untuk merubah sikapnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Bang Husien menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku.
Istri mana yang tahan kalau saban hari selalu dipukuli suami. Tiada hari tanpa pertengkaran terlewatkan, selalu saja ada perang di rumah tangga kami. Suamiku lupa diri setelah sukses, dia malah mencampakkan aku dan menikah dengan wanita lain.

Usia perkawinan kami masih menginjak 8 tahun. Namun biduk rumah tangga kami sudah oleng sejak Bang Husein (29), mulai sering main tangan denganku. Padahal, dulunya dia selalu bersikap sabar dan penyayang terhadapku dan 2 anak kami.

Aku mengenal Bang Husein saat masih bekerja di perusahaan kosmetik. Ketika itu Bang Husein belum bekerja, statusnya masih pengangguran. Namun sikap Bang Husein yang lembut dan romantis, membuat aku jatuh cinta padanya. Tanpa memperdulikan status pengangguran yang disandangnya, kami pun melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

Karena hanya aku yang bekerja, otomatis biaya hidup setelah berkeluarga pun aku yang menanggung. Selama menikah, kami menyewa rumah. Bang Husein seperti terlena dengan hidupnya yang selalu ogah-ogahan. Tak ada niatnya untuk bekerja. Meski kami sudah dikaruniai 2 anak pun, Bang Husein tetap saja kerjanya hanya makan dan tidur setiap hari.

Ketika itu mendapat promosi kerja dan dipindahkan ke kota lain, aku pun memboyong keluarga pindah ke kota itu. Melalui teman-teman, akhirnya Bang Husein memperoleh pekerjaan. Dia jadi tukang aspal, dan kini sudah menjabat sebagai kepala aspal. Semuanya berkat lobi-lobiku pada teman, agar Bang Husein cepat naik karirnya.

Namun setelah keberhasilan itu, sikap Bang Husein mulai berubah. Dia jadi suka marah-marah dan sering memukuliku. Tak hanya itu saja, dia juga mulai menggunakan narkoba dan berselingkuh dengan wanita lain. Tampaknya, uang membuat Bang Husein lupa diri.

Hampir saban hari Bang Husein menghisap ganja. Bila tak ada itu, dia langsung marah dan memukuliku. Bang Husein seakan lupa, kalau sewaktu nganggur dulu akulah yang selalu membelinya rokok dan mencari makan buat kebutuhan keluarga. Tapi begitu sudah berduit, dia malah sesuka hati pada keluarga. Seenaknya saja memukuliku.

Makan hati berulam jantung rasanya menghadapi Bang Husein. Pernah aku menanyakan perselingkuhannya, namun lagi-lagi tamparan tangannya mendarat di wajahku. Dia juga mulai jarang pulang ke rumah. Meski sikapnya kasar, namun aku coba bersabar demi anak-anak.

Namun betapa kecewanya aku begitu tahu ternyata Bang Husein diam-diam sudah menikah lagi. Pernikahan siri yang mereka jalani sudah berjalan 2 tahun lamanya. Bahkan perempuan selingkuhannya itu tengah hamil tua.

Istri mana yang sanggup menghadapi kenyataan itu. Tapi bukannya aku yang mengajukan perceraian, melainkan Bang Husein. Aku sudah pasrah dengan sikapnya ingin meninggalkan aku dan anak-anak. Perceraian kami terjadi 2 tahun lalu.

Kebetulan aku dipindah tugaskan ke Padang. Aku pun membawa anak-anak pindah ke kota itu. Di kota itu pula, aku bertemu dengan seorang lelaki yang berhasil membuka pintu hatiku. Berawal dari perkenalan kami karena salah telepon, akhirnya kami pun janji temu.

Semula aku ragu dengan ketulusan lelaki itu mencintaiku. Apalagi statusku janda anak dua yang kini sudah duduk di bangku SD. Namun ternyata dia menerimaku apa adanya. Ketulusannya membuatku menaruh kembali kepercayaan pada lelaki. Meski sejujurnya kukatakan, aku sempat membenci kaum adam karena trauma dengan sikap Bang Husein yang seakan seperti kacang lupa kulitnya.

Untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan, aku diharuskan memiliki akta perceraian. Disebabkan itulah, kemarin (20/7), aku ditemani tanteku datang ke PA untuk mengambil akta cerai yang selama ini tak pernah kugubris. Biarlah hidup baru kan kujalani. Mungkin inilah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukku. =mxai

 
< Sebelum   Berikut >