|
Tak ku sangka kisah perjalanan hidupku akan pahit seperti ini. Setelah menerima siksaan fisik yang mengakibatkan aku geger otak, aku malah diceraikan suami. Sungguh sakit yang ku rasakan ini.
Sebut saja namaku Reni. Usiaku saat ini baru saja menginjak 28 tahun. 9 tahun silam, aku berkenalan dengan Mawi, suami pertamaku disebuah rumah makan.
Saat itu aku baru saja tamat SMU, kami pun berpacaran. Kala itu, kami sering bertemu di rumah makan itu. Maklum, saat itu, rumah makan milik seorang pengusaha Minang itu menjadi favorit anak muda pada saat itu.
Setahun hubungan kami terjalin, kami pun semakin dekat. Sampai pada suatu saat, kami berkunjung ke rumah seorang teman yang tak jauh dari rumah makan tempat biasa kami bertemu. Disana, kami hanya berdua di dalam kamar, sedangkan temanku pergi dengan alasan membeli makanan. Saat itu, Mawi mencoba menggodaku. Wajahnya yang tampan mempesonaku, maklum Mawi seorang pria keturunan Arab.
Awalnya, aku menolak ketika Mawi ingin memperawaniku. Namun, karena Mawi berjanji akan bertanggung jawab aku pun rela ketika ia merenggut mahkotaku.
Mulai saat itu, kami pun sering melakukannya. Ketika ada tempat dan kesempatan, kami melakukannya. Hingga, memasuki bulan kedua tanpa kusadari ternyata aku telah mengandung. Saat itu, aku merasa telah melakukan hal terbodoh dalam hidupku.
Aku bingung mau berbuat apa, aku putuskan untuk membicarakannya kepada Mawi. Beruntung, Mawi mau bertanggung jawab. Dengan penuh rasa bersalah, aku pun memberitahukan perihal kehamilanku kepada kedua orang tuaku.
Mendengar penjelasanku, ibuku langsung pingsan. Namun, setelah dijelaskan kedua orang tuaku mau mengerti dan meminta kami segera menikah. Ternyata, masalah belum selesai, kedua orang kami berdebat masalah kepercayaan.
Orang tuaku meminta Mawi untuk ikut agama yang kami anut. Sedangkan, orang tua Mawi malah sebaliknya. Mereka meminta aku untuk ikut agama mereka. Akhirnya akupun mengalah ikut agama Mawi.
Setelah pernikahan keduanya berjalan dua tahun Mawi mulai berulah. Pria berkulit kuning langsat itu sering pulang larut malam, bahkan Mawi sering tidak pulang ke rumah. Sebagai seorang istri, aku pun curiga. Memang, aku pernah mendengar selentingan kalau suamiku ada wanita idaman lain. Namun, aku tak begitu saja percaya.
Sampai suatu hari, aku melihat Mawi jalan dengan wanita lain. Saat itu, aku mulai berfikir tentang apa yang dikatakan teman-temanku selama ini. Setibanya di rumah, aku bertanya tentang wanita yang berjalan bersamanya. Tak ada angin tak ada hujan, Mawi langsung marah-marah dan memakiku. Itu lah awal pertengkaran kami setiap hari.
Setiap kami bertengkar, Mawi selalu memukuliku. Hingga, suatu hari kami bertengkar, Mawi menghajarku habis-habisan. Kepala dan seluruh badanku dipukul dan ditendangnya dengan membabi buta, akibat tendangan dan pukulannya aku menderita geger otak ringan.
Setelah mengetahui aku sering dianiaya, kedua orang tuaku meminta aku untuk menceraikan Mawi. Namun, aku tak mau. Tapi, akhirnya suamiku menceraikan aku. Hak asuh anak, jatuh kepadaku. Hancur rasanya hidupku, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi, aku harus berjuang untuk menghidupi anakku.
Setelah bercerai, aku menjalani kehidupanku sebagai single parent (orang tau tunggal). Hari-hari ku isi dengan mengasuh anak semata wayang buah pernikahanku dengan Mawi. Pagi aku mengantarnya ke sekolah dan siang menjemputnya pulang dari sekolah. Begitu seterusnya, hingga aku bertemu dengan suami keduaku, Leo.
Saat itu Leo bekerja sebagai salah seorang distributor buku untuk sekolah-sekolah di luar kota. Singkatnya, kami pun dekat dan menjalin hubungan. Setelah berjalan setahun, kami memutuskan untuk menikah.
Setahun berumah tangga, pertengkaran acap kali terjadi. Pasalnya, Leo yang sudah habis kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja tak memiliki keinginan untuk mencari pekerjaan yang baru. Merasa tak memiliki tanggung jawab, aku pun menggugat cerai suamiku.
Pembaca, hendaknya apa yang menimpaku ini bisa jadi pelajaran bagi wanita lain. Jangan asal memiliki suami, sebab bersuami itu bukan untuk setahun atau dua tahun tapi untuk seumur hidup. Untuk itu carilah suami yang benar-benar sayang dan cinta. Agar bsa hidup bahagia.(Tamat)
|