Separuh Diriku Telah Mati
Kamis, 17 Juni 2010
 
Tapi ketika di rumah sakit beberapa hari kemudian, Istrinya menjumpaiku. Dia marah. Dia caci-maki aku. Aku diam. Dia menangis. Dia katakan kenapa aku begitu tega, meracuni rumah tangganya, membohonginya. “Kamu perempuan yang sangat kejam!” makinya. Aku tak hirau. Bagiku, sepanjang Imron sehat lagi, cukuplah.
Setelah sehat, aku bertemu lagi dengan Imron. Desanya jadi penuh desas-desus tentang hubungan kami. Tapi apa peduli kami? Aku bertemu terakhir tanggal 12 Mei 2006. Ia cerita, ayahnya sakit.

17 Mei 2006, kudengar kabar ayahnya meninggal dunia. Tapi, aku tak bisa menghubungi teleponnya. SMS dariku juga tidak masuk. Tanggal 18 Mei, malam, telepon berdering di rumahku. Dari lantai dua, aku mencoba turun untuk mengangkat telepon itu. Tapi, di tangga, kulihat suami telah mengangkat.

Entahlah, aku seperti mendengar suara di dalam telepon itu. “Mas, Imron telah mati!” Ya, itu suara yang kudengar. Aku termangu sesaat. Lalu berlari mendekat di saat telepon di tutup suamiku. Aku tanya padanya, dari siapa. Suami diam.

Aku paksa dia bicara. “Dari adikmu, tanya apakah kamu sehat? Aku bilang kamu lagi tidur...” Aku tidak yakin dengan ucapannya. Telingaku seperti mendengar tentang kematian itu. Tapi aku juga ragu. Apa mungkin dari jarak 6 meter aku dapat mendengar suara dari telepon?

Tanggal 28 Mei, aku  bertemu dengan teman kampungku, sebut saja Wati. Ketika melihatku, dia heran. “Kok kamu seperti tidak berduka?” tanyanya. Aku tertawa. Aku memang tidak sedang berduka. Meski Imronku tak membalas SMS, aku tahu dia menerima pesanku. Tapi, pengakuan Wati membuat duniaku seperti runtuh. “Imron telah meninggal 10 hari lalu. Masa kamu tidak tahu?”

Sepuluh hari lalu? Berarti tanggal 18 Mei itu? Ya Tuhan, berarti telepon malam itu?! Kutanyakan pada suami, dia mengakuinya. Dia tak ingin aku tahu, dia tak ingin aku sedih. Gila! Aku tidak sedih, tapi aku telah mati. Ya, separuh diriku telah mati, mati, dibawa Imron.

Apalagi, kemudian aku tahu, di hari kematian itu, suami meminta adik dan Om-ku untuk menemui Imron. Temanku di desa menjadi saksi, mereka mengintimidasi Imron agar tak lagi menemuiku. Dan kata temenku, Imron begitu putus asa, sampai... Ya, malam itu, di dapurnya, dia mengikatkan seutas tali ke tiang, lalu meletakkan lehernya di gantungan. Imronku, meninggal bunuh diri...

Hidupku kini selesai... Selesai. Aku seperti robot. Berjalan dan bekerja tanpa rasa. Melihat suamiku tanpa rasa. Di dalam hatiku, lahir prasangka, suamikukah yang membuat Imron jadi nekat bunuh diri? Aku tak tahu, aku tak mau lagi mencari tahu. Hidupku sudah selesai....(
Sebagaimana cerita Vera kepada Redaksi).
=mxai

   
Send to friend
Related articles

Komentar  RSS feed comment
 

 


Menambah Komentar
Nama
E-mail
Judul  
Comment
 
Maksimal Karakter: 600
   Konfirmasi ke E-Mail
   
   

Tidak ada komentar



mXcomment 1.0.9 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelum   Berikut >