|
Selasa, 08 Juni 2010 |
|
Aku juga sadar jika menikah dengan Yandi berarti aku akan menjadi istri keduanya. Bagiku itu itu tidak menjadi soal, toh aku juga janda bukan perawan lagi. Jadi untuk dijadikan istri kedua pun aku rela yang penting bagiku Yandi harus mempertanggung jawabkan janji manisnya.
Namun janji tinggallah janji. Usai pertemuan terkahir dan diakhiri dengan hubungan intim itu, Yandi tidak pernah lagi menampkkan batang hidungnya. Satu minggu, dua minggu hingga tingga minggu kuhitung dengan perasaan gelisah, resah dan tak sabar.
Ya sudah tingga minggu yandi tidak pernah datang lagi padaku, apakah ia lupa dengan janjinya untuk menikahiku. Aku marah dan benci karena ia tidak pernah menjawab kepastian hubungan ini, tapi satu sisi aku sangat mengharapkan kehadiranya. Karena cintaku benar-benar tulus padanya.
Kesulitan Yandi dalam hal ekonomi sungguh sangat kumengerti. Tapi Yandi mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dan sama sekali tidak memiliki tanggung jawab untuk menikahiku. Ditengah keragu-raguanku itu tiba-tiba yandi muncul kembali setelah tiga minggu menghilang.
Aneh, kehadiran Yandi kali ini sama sekali tidak membuat aku marah karena ketidakpastiannya. Yandi malah kembali mengubar janji bahwa ia akan menikahiku. Aku pun kembali terlena dengan rayuanya. Hampir tiga bulan kami bersama menjalani masa-masa indah.
Aku begitu bahagia. Kutunjukkan cara baruku dengan memberikan segala pengorbananku padanya. Tidak hanya tubuhku juga materi kuserahkan agar ia tahu kesungguhanku padanya. Yandi begitu memperhatikanku, dan menurut pikiranku Yandi benar-benar mencintaiku dan mau menikahiku.
Aku berharap semoga pertemuan kedua ini akan bisa menjadi kenyataan sampai kejenjang pernikahan. Dalam setiap pertemuan kami selalu melakukan hubungan intim. Aku tahu waktu itu istri Yandi sedang hamil tua, mungkin dengan cara itu aku bisa membahagiakan Yandi, sebab cintaku padanya sungguh begitu dalam.
Namun nasib buruk kembali kualami. Hubunganku dengan Yandi akhirnya diketahui istrinya. Suatu hari istrinya mendatangiku dan marah-marah di depan Yandi. Ketika itulah aku tahu ternyata sedikitpun tidak ada keberanian Yandi untuk membelaku. Yandi hanya memanfaatkan jandaku untuk memuaskan nafsu seksnya.
Sungguh aku telah di tipu olehnya. Aku shock, aku trauma mencintai suami orang. Akhirnya kisahku dengan Yandi terpaksa aku tempuh jalan perpisahan untuk yang ke dua kalinya. Biarlah aku menjanda dari pada hanya menjadi pemuas nafsu seseorang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.
Pembaca yang budiman, semoga apa yang ku alami ini tidak pernah menimpa diri pembaca. Dan buat para janda-janda muda, aku ingatkan jangan mudah percaya dengan bujuk rayu lelaki. Salam dariku yang terluka.(Seperti diceritakan Lin pada Pekanbaru MX) =mxAI |