|
Rabu, 02 Juni 2010 |
|
Sejak itulah aku berpikir betapa ‘kepedulian’ keluarga terhadap Mbak Rani sudah kebablasen. Pemberontakanku adalah mulai lari ke luar. Dan bertemulah aku dengan mas Doni tempat aku curhat.
Dua tahun ini. Dan banyak yang kemudian berubah dalam diriku. Antaralain, aku mulai merasa mendapat perlakuan tidak adil. Terutama dari diriku sendiri. Aku mulai merasa telah menyia-nyiakan hidup. Aku mulai merasa banyak kehilangan karena kelewat peduli pada orang lain, dan ternyata tidak semua bentuk awarness itu menguntungkan.
Aku juga mulai merasa terlambat jatuh cinta. Dan Mas Doni-lah lelaki pertama yang dekat denganku. Kau mencintainya, Na? Umurmu sudah lebih 20, kan? Mengapa tidak kau ‘tembak’ saja dia? Gila! Tapi aku tak berani menyatakan perasaanku itu.
Yang kucurhatkan pada mahasiswa Psikologi itu lebih banyak tentang Mbak Rani. Karena itulah, Mas Doni jadi sering ke rumah kami. Kenal baik keluargaku. Kenal baik Mbak Rani dan orangtuaku. Ia bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri. Berapa kali menjemput ibu dari tempat arisan ketika pas tak ada mobil di rumah?
Aku makin dekat dengan laki-laki itu. Aku hampir merasa yakin telah jatuh cinta padanya. Sampai akhirnya terjadi geger mulai dua bulan lalu. Mbak Rani hamil. Dan mbakyuku itu mengaku Mas Doni-lah yang berbuat.
Sejak itu Mas Doni hilang, bahkan dari kampus, dari tempat kost-nya, tak seorang pun tahu. Aku shock. AKU benci siapa pun sekarang. Benci keluargaku yang bodoh. Benci Pakde Hari yang selalu membela Mbak Rani dan siap memarahi bapakku setiap mbakyuku itu mengadu.
Aku benci Doni dan pada saat-saat tertentu perasaanku itu memuncak lalu kuhasut Mas Anto anaknya Pakde Hari untuk memburu laki-laki itu. Kalau perlu membunuhnya.
Aku tak yakin beranikah aku menerima kenyataan andai Doni ‘tertangkap’ lalu dinikahkan dengan mbakyuku kemudian kami hidup se rumah.
Belakangan ini perutku sering mual jika melihat Mbak Rani. Tapi yang jelas hidupku kacau, pikiranku bergulung-gulung sehingga pernah aku tak yakin bisa wisuda akhir tahun ini.
Sampai kutulis isah ini, Doni belum ditemukan. Keluargaku masih resah. Aku tak betah di rumah. (habis) =mxAI
|