Aku Merasa Dicampakkan
Sabtu, 08 Mei 2010
Setelah kejadian itu aku menghindarinya, meski dia meminta maaf dan selalu membawakanku hadiah. Aku merasa jijik, tersakiti, tertipu, dan dihinakan. Tidak pernah mau kuterima telepon, kedantangannya, apalagi permintaan maafnya. Di hatiku telah tertaman kebencian dan kian subur tiap dia datang untuk meminta maaf.
Namun, yang kutakutkan terjadi. Di minggu ketiga setelah kejadian itu, haidku terlambat. Kutunggu seminggu, tak juga datang. Dan aku positif hamil. Dengan terpaksa, kuhubungi Benny dan kuceritakan hal itu. Dia bersorak. Dia berjanji menikahiku. Malam itu, dia ke rumah, dan meminta restu dari orangtuaku untuk menikahiku.

Dan, dalam kondisi begitu pun, ibu ternyata tetap tak mau merestuiku. Dengan tangis karena kehamilan, dan keputusasaan, aku menikah di rumah Benny, hanya dengan restu ayah dan adikku.

Barangkali karena tiada restu itu juga, kandunganku tak mau bertahan lama. Usia 5 bulan, aku keguguran. Dan ibu tak pernah mau menemuiku. Aku mengurus diriku sendiri. Keguguran itu ternyata sangat menyakitkan bagi Benny.

Dia menyesaliku yang tak mampu menjaga bayi itu. Benny yang kecewa, kemudian pergi meninggalkanku, entah ke mana, tanpa pamit dan berita. Kembali aku merasa dicampakkan. Keluargaku mendesak agar aku segera mengajukan cerai. Tapi aku menolak.

Meski sakit hati, tetap saja kunanti lelaki yang sudah berbagi nyawa denganku. Tanpa kuduga dia nongol di depanku. Jauh lebih kurus dari sebelumnya. Kubimbing dia masuk rumah, kusediakan makan dan baru 2 bulan kemudian aku bertanya, ke mana saja dia selama dua bulan itu.

Bukannya memberi penjelasan, dia malah marah. Dia mengancam akan kembali meninggalkanku jika masih bertanya ke mana dia selama pergi itu. Aku mengalah dan tak pernah lagi bertanya.

Akhir tahun 2004, aku kembali hamil. Kujaga dengan sepenuh hati, akhirnya aku melahirkan, bayi lelaki yang tampan. Tapi, ibu tak juga mau datang. Di saat aku mau melahirkan, ibu malah memilih pergi ikut seminar. Dan ketika telah dua hari di rumah sakit, barulah ibu datang menjengukku.

Ibu tetap tak mau berbicara dengan Benny dan selalu pergi kalau Benny kebetulan ada. Ibu malah membujukkan untuk berpisah. “Sudah ada anak yang bisa menemani kamu,” kata Ibu. Tapi aku telah terlanjut sayang pada Benny dengan segala kekurangannya. Aku menolak.

Untunglah, Benny kemudian dapat kerja, sehingga beban pengeluaran bisa ditanggung bersama. Namun, begitu Benny kerja lagi, orangtuanya datang dan meminjam uang. Karena Benny tidak punya, terpaksalah aku meminjam di kantorku, dan setiap bulan kami angsur bersama. Aku ikhlas aja Benny membantu orangtuanya. (Bersanbung) =mxAI

 
< Sebelum   Berikut >