Aku Makin Menderita
Sabtu, 13 Maret 2010
sampai malam  pertama tidak aku  lalui seperti pengantin baru yang biasanya. Ternyata pernikahan ku dengan si A yang sekarang jadi suamiku awal penderitaanku. Singkat cerita aku melahirkan putri pertamaku. Dia begitu manis seperti bapaknya. Tapi bukan kebahagiaan yang aku dapatkan sebuah pertanyaan keluar dari mulut suamiku. Dengan siapa dek kau tidur yang pertama kalinya? karena aku dapat mimpi anak ini bukan anakku. Oh tuhan aku serasa disambar petir disiang bolong. Tuhan inikah balasan dari sedihnya hati ortuku? jelas aku menangis.
Atas penghinaan itu aku bersumpah dialah yang pertama kali menciumku dan menjamah tubuhku ini karena dia cinta pertamaku. Tapi dia tetap tidka percaya dan ngotot memaksaku untuk mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan, sampai membuat ku pasrah baru dua hari umur bayiku aku sudah menderita, akhirnya aku minta dia untuk meninggalkan kami, aku rela biarlah aku besarkan buah hatiku seorang diri.

Tapi dia tidak mau untuk meninggalkan kami. Dia punya rencana lain untuk ku. Mulai dia pacaran didepan mataku, main judi, mabuk mabuk dan aku tidak bisa berbuat apa apa. Telah lewat tiga tahun umur anakku, cobaan ku datang lagi suamiku meniduri adek perempuanku.

Dunia terasa kiamat dan aku menangis berteriak teriak memohon dia ceritakan kepada ku. Tak ada lagi harga diriku dimata keluarga. Malah dia balik membentakku. Dia tidak menikmati perawanku. Didalam keputusasaanku, aku mengambil jalan pintas untuk akhiri penderitaan.

Aku minum obat tidur 100 butir. Tapi Tuhan berkehendak lain aku bisa diselamatkan oleh dokter. Besoknya aku ulangi perbuatan ku dengan memotong nadi ku, tapi Tuhan masih memberiku perlindungan dan memberi aku waktu untuk tobat. Akhirnya aku pasrah, mungkin tuhan punya rencana lain terhadapku. Aku mulai hidup seperti biasa.

Hidup rumah tanggaku ku jalani dengan air mata, badanku yang dulu padat, berangsur kurus mau mengadu kepada ortu jelas tidak mungkin karena ia pilihanku.  Memasuki tahun ke lima aku pindah ke kota S. Aku mulai merintis usaha rumah makan dekat perusahaan dimana suamiku bekerja.

Aku lakukan itu karena suamiku tidak pernah mau memberikan gajinya untuk makan aku dan gadis kecilku itu. Aku selalu dibentak bilamana minta uang untuk belanja. Dengan bantuan kakakku aku bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi. Tuhan memberiku rezeki disana.

Tapi bencana rumah tanggaku terancam lagi. Suamiku meniduri pembantuku, yang tak lain ponakan ayahku sendiri. Dia hamil aku kecewa, marah, sedih, dan sakit hati. Tapi dia tidak pernah mau menceraikanku. Malah aku tidak sanggup menolak dia minta uang untuk membayar hutang judinya. Aneh entah ilmu apa yang ia pakai. (bersambung)
 
< Sebelum   Berikut >