Pernikahan Awal dari Penderitaan
Jumat, 12 Maret 2010
Tak pernah kubayangkan sepanjang hidupku akan jadi budak suami. Masa depan bahagia, rumah tangga yang sakinah dan harmonis, kini hanya tinggal mimpi belaka. Aku anak ketujuh dari 12 bersaudara. Saudara perempuanku tujuh orang, laki-laki lima orang. Semua kakak dan adik perempuanku begitu lembut dan ayu. Hanya aku yang keras, bak seorang anak laki-laki. Mungkin karena aku dekat dengan ayah yang pensiunan polisi. Ayah memang mendidik aku dengan keras. Jadilah aku cewek tomboy. Keseharianku bergelut dengan pekerjaan laki-laki. Bahkan  tak lupa ayah memberiku pelajaran beladiri. ‘’Untuk jaga-jaga,’ kata ayah.
Kalau pun ada waktu senggangku, kugunakan untuk berkumpul dengan teman-teman main balapan motor. Ayah tak pernah marah, malah dia bangga melihat aku selalu menang balapan. Bahkan ketika motorku hancur karena tabrakan, dia sama sekali tak marah. Ayah begitu baik. Justru mama yang sering marah padaku, tapi ayah selalu jadi pembelaku.

Bagiamana pun, aku adalah wanita nomal. Aku juga ingin seperti wanita lain menikah dan punya keluarga. Singkat cerita, aku bertemu dengan seorang pria di kampungku, sebut saja namanya A. Dia begitu lembut dan ramah. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dia teman kakak laki-lakiku.

Tapi sayang, hubunganku dengan A ditentang keras oleh keluargaku. Alasannya A tidak cocok untukku. ‘’Dia pejudi, suka main cewek,’’ kata kakakku. Tapi aku tetap kukuh dengan keinginanku, aku bertekad mengubah A untuk tidak lagi berjudi dan main cewek. Dia juga berjanji untuk berubah. Aku merasa tidak salah pilih, karena A calon sarjana ekonomi, tentu nanti dia akan dapat pekerjaan yang baik.

Aku juga tak mau buru-buru menikah. Aku masih punya cita-cita yang sejak kecil kusimpan. Aku ingin jadi Polwan. Aku pun memohon pada ayah agar mengizinkanku ikut tes Polwan. Tapi ayah memberi syarat aku harus putus dengan A. Syarat yang berat, hatiku bimbang. Aku sudah terlanjur cinta, syarat ayah kutolak. Pupus sudah harapanku jadi Polwan.

Ternyata ayah punya rencana lain. Ia menerima lamaran seorang polisi yang memang sudah lama menaksirku, sebut saja namanya B. Hari pesta sudah ditentukan, tanpa menunggu persetujuanku. Aku menangis... tak sanggup melupakan A, kekasih hatiku. Tepat di malam pesta pernikahanku dengan B, aku kabur dari rumah dengan A.

Semua rencana bisa dibikin manusia tapi tuhan jualah yang menentukan nasib umatnya. Acara pernikahanku digelar dikota C. Tuhan aku menderita setelah ijab kabul dibacakan ayah. Tentu aku sebagai anak aku memohon doa restu dari ortuku tapi apa yang kudapat dari ayah? Ayah bisikan telingaku dengan kata-kata aku nikahkan kamu dengan si Aini tapi aku tidak rela sampai aku mati. Tuhan dunia begitu gelap aku rasa saat ini.(bersambung)
 
< Sebelum   Berikut >