BENGKALIS-Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pepatah ini tepat menimpat Topan Andreano (27) warga Rimbas Sekampung, Gang Imam Bonjol Bengkalis. Pegawai honorer Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Bengkalis tewas terjepit badan kapal ferri penyeberangan roll on rool off (Roro) KMP Tasik Gemilang ketika hendak berlabuh di Pelabuhan Sei Selari-Pakning, Kamis (11/3).
Kondisi korban cukup mengenaskan. Kepalanya pecah terjepit badan kapal dan tiang penyangga tempat ferri bersandar. Tak hayal akibat insiden tersebut sejumlah petugas Dishub Infokom baik ABK (Anak Buah Kapal) dan Kapten Kapal (Nakhoda) panik. Pasalnya, korban saat terjepit sempat berteriak keras, dan langsung terjatuh dan keluar dari badan kapal.
Menurut informasi yang dirangkum di lapangan, peristiwa naas tersebut bermula saat KMP Tasik Gemilang hendak beroperasi melayani jasa angkutan penyeberangan Pakning-Bengkalis, Kamis (11/3) sekitar pukul 06.00 WIB.
KMP Tasik Gemilang yang standby melayani jasa pelayaran dari Pakning semula bersandar di pelabuhan yang baru dibangun. Namun lantaran KMP Tasik Gemilang jadwal keberangkatannya masih lama dan menunggu penumpang di pelabuhan, Nakhoda kapal menginstruksikan untuk pindah tempat bersandar, kebetulan tempat bersandar kapal di Pakning ada dua, satu tempat bersandar pelabuhan lama, dan tempat bersandar pelabuhan baru yang jaraknya bersebalahan.
Apalagi pagi itu salah satu armada ferry milik perusahaan swasta KM Aeng Mas hendak berlabuh di pelabuhan Pakning membawa penumpang dari Bengkalis. Sehingga dengan instruksi tersebut, seluruh petugas Dishub bersiap-siap untuk memindahkan tempat bersandar kapal tersebut ke tempat bersandar di pelabuhan lama.
Namun saat kapal bergerak memasuki haluan sandar kapal. Tiba-tiba korban yang bersiap-siap di posisi sebelah kiri badan kapal tiba-tiba berteriak keras.
Teriakan korban mengundang perhatian ABK dan nakhoda lainya. Di luar dugaan, teriakan tersebut keluar dari mulut Topan Adreano salah satu ABK yang bertugas memasang tali ketika kapal bersandar.
‘’Korban saat itu sempat berteriak keras, sehingga mengundang perhatian petugas lainnya. Setelah dilihat ternyata kepala korban terhimpit diantara badan kapal dengan tiang penyangga di sebalah kiri,’’ungkap Sudiarto saat ditemui wartawan di rumah duka.
Sudiarto juga mengatakan, salah seorang petugas berusaha untuk menolong dengan menarik badan korban. Namun, usaha itu gagal dan justru kepala korban justru terhimpit hingga belipat dan terseret. Selanjutnya, korban terjatuh keluar dari badan kapal bersama Handle Talki (HT) di tangannya.
‘’Saat kita angkat tubuhnya, ditemukan sudah dalam kondisi sudah tak bernyawa, darah yang mengucur di bagian kepalanya cukup banyak hampir satu ember, saat diangkat kepalanya sudah lunak. Padahal saat ini dia (korban,red) baru saja selesai sarapan pagi, sehingga sarapan mie instan yang dimakannya saat kejadian itu terus saja keluar dari mulutnya,’’ungkapnya.
Dari insiden tersebut, korban sempat dibawa ke Puskesmas Pakning. Sekitar pukul 07.30 WIB dibawa ke rumah kediamannya di Jalan Kebun Kapas, Gang Imam Bonjol, Bengkalis. Sesampainya di rumah duka, jasad korban yang kondisinya mengenaskan itu disambut dengan hisak tangis keluarganya.
Ratusan warga dan tetangga pagi itu juga berbondong-bondong menuju rumah korban, dan melayat jenazah korban yang sudah terbujur kaku. Tak satupun kelurga korban bersedia diwawancarai wartawan. Kucuran air mata kesedihan keluarga korban hingga siang kemarin masih menyelimuti suasana duka.
Kapolres Bengkalis AKBP Marudut Hutabarat melalui Kapolsek Bukitbatu AKP Sugeng Hariyanto, SH, Kamis (11/3) saat dikonfirmasi terkait insident yang terjadi di KMP Tasik Gemilang menyebutkan, saat ini pihaknya tengah melakukan pemeriksaan terhadap empat saksi di antaranya tiga ABK masing-masing Asbul, Anwar, Azmi Plani, dan nakhoda KMP Tasik Gemilang H Tamrin. ‘’Empat orang saksi saat ini dalam pemeriksaan Mapolsek Bukitbaru. Anggota kita masih memintai keterangan terhadap incident tersebut,’’terangnya =MXH
|
|
|