|
Semenjak kenalan itulah aku jadi semakin percaya diri karna aku tergolong lelaki yang ga pernah ke luar rumah apa lagi sampai larut malam. Terus terang selama hidup aku belum pernah pacaran mungkin benar aku tak pernah ke luar rumah kecuali pergi kuliah dan belajar di rumah teman.
Mungkin juga aku takut dengan pergaulan anak muda di sekitarku yang terkenal dengan nakalnya, meskipun aku kost jauh dari tempat pusat kota bertuah ini tetapi namanya premanisme, obat-obat haram betapa meluasnya di sekitar kost ku.
Sementara aku hanya hidup pas-pasan untuk membayar kuliah dan kost, untuk makan pun kadang tergantung keadaan. Bagiku hidup emang perlu perjuangan dan senantiasa berusaha dan berdoa kepada tuhan dan selalu bersyukur atas nikmatnya yang diberikan kepadaku.
Hari hari demi hari kulalui dengan perjuangan dan do’a akupun akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta di kota ini. Sejak aku bekerja tidak lagi aku mengharapkan kiriman dari orang tuaku untuk bayar kuliah dan kost. karena dengan gaji aku ini sudah cukup, bahkan sesekali aku bisa mengirim uang untuk orang tuaku di kampung.
Sejak saat itu hari-hariku mulai disibukkan dengan kuliah dan bekerja, 7 bulan sudah aku bekerja di perusahaan itu dan akupun bisa membeli satu unit kendaraan roda dua. Perasaan dan hatiku tetap untuk bertekat bekerja dan meluluskan sarjanaku.
Tak terasa waktu berlalu aku yang lagi istirahat di sebuah kios penjual roti bakar, tiba-tiba tak sengaja bertemu kembali dengan titin yang baru pulang dari mal. Titin menghampiriku dengan akrabnya, serasa lima tahun tak berjumpa, dan titin memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumahnya. Pada saat itulah aku memulai kedekatan.
Rasa dunia ini milik berdua, kami saling barcanda tawa, akhirnya pada malam itu aku diberi kesempatan untuk datang kerumahnya untuk dikenalkan kepada kedua orang tuanya. Dengan perasaan ragu dan sedikit gemetar akupun menjajikanya. Pada malam itu titin terlebih dahulu mengungkapkan kalau Titin sayang dan cinta mati ama aku, akupun mengatakan aku juga cinta.
Delapan bulan lamanya kami menjalin hubungan seakan dunia milik bardua bahkan bercerita tentang ke depanpun sudah kami rencanakan. Apalagi Kedua orang tua merestui hubungan ini sampai ke jenjang pernikahan.
Mungkin dalam hatiku, inilah cinta pertama dan satu-satunya cinta yang abadi selamanya, love forever Titin pun mengatakan bener-bener sayang sama aku dan mengerti dengan pekerjaanku, kehidupan serta kepribadianku.
Aku memang sangat percaya sama Titin, ia berjanji tidak akan menduakan cinta suciku. Bahkan gajikupun sempat kusisakan untuk kebutuhan dia.
Tetapi janji adalah janji, Titin mulai berubah. Itu kuketahui setiap kali aku berkunjung ke rumahnya, Titin selalu tidak ada. Bahkan saat ku telepon ke HP, ia beralasan selalu sibuk. Bahkan ketika berjumpa tingkahnyapun mulai berubah dan membuatku tak mengerti.(bersambung) =mxai
|