Kakek Gelandangan Cabuli Bocah
Rabu, 02 Desember 2009
 
ImagePEKANBARU -- Idul Adha kemarin tak dapat dirayakan Bunga (bukan nama sebenarnya) dengan meriah. Sebab, pada hari besar bagi umat Islam itu, bocah berumur lima tahun ini harus mengalami nasib buruk yang takkan pernah dilupakan seumur hidup. Ia dicabuli di rumah kosong oleh Evi, gaek berumur 50 tahun.
Sejak kejadian itu, sulung dua bersaudara, putri dari kedua orang tua pengidap tuna netra ini, merasa trauma. Sikap riangnya seketika berubah drastis sehingga berubah pendiam jika seorang diri.  Sementara pelaku, kini sudah mendekam di tahanan Polsekta Sukajadi untuk menjalani pemeriksaan. Pria tua yang tak punya tempat tinggal ini ditangkap tak lama usai orang tua korban melapor.

Kapolsekta Sukajadi AKP Agus Setiawan SE didampingi Kanit Reskrim Iptu Ridwanto kepada Pekanbaru MX, Selasa (1/12) mengatakan, atas perbuatannya tersangka dijerat Pasal 82 Undang Undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya tak tanggung-tanggung. Maksimal 15 tahun penjara dan minimal 3 tahun.

Dijelaskan Kapolsek, tersangka ditangkap sekitar pukul 20.30 WIB di Jalan Melati, Sukajadi. Semula ia sempat mengelak. Namun setelah dipertemukan dengan korban, pelaku tak lagi berkutik. Ia akhirnya mengakui semua apa yang telah diperbuatnya. ‘’Tersangka telah kita amankan. Untuk kepastiannya, masih menunggu hasil visum. Kasus ini masih dalam penyelidikan,’’ sebut Agus.

Dicabuli di Rumah Kosong                            
Peristiwa itu terjadi, Jumat (27/11) lalu sekitar pukul 09.00 WIB, usai pulang salat, Bunga diminta orang tuanya untuk pergi ke warung membeli pembalut anak-anak. Namun saat itu, Bunga susah menemukan warung yang buka. Kebetulan hari itu Idul Adha. Namun di perjalanan, ia bertemu dengan pelaku.

Setelah mengetahui tujuan Bunga, pelaku kemudian berniat menolong mencarikan warung yang buka. Lalu pergilah mereka bersama. Ternyata itu hanya akal-akalan pelaku saja. Bunga bukannya dibawa mencarikan warung, malah dibawa ke rumah kosong tak jauh dari rumah korban di Jalan Melati, Sukajadi.

Di sanalah peistiwa memilukan itu terjadi. Dengan nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun, pelaku menggerayangi tubuh korban. Bahkan, ia sempat menanggalkan celananya, juga celana korban. Hingga akhirnya ia mencapai klimaks.

Setelah puas, korban meninggalkan Bunga begitu saja. Sementara korban yang tak tahu apa-apa, lantas pulang ke rumah. Semula tak ada yang curiga. Namun sorenya, kecurigaan timbul saat korban merasa kesakitan saat buang air. Apalagi, di celana dalam Bunga terlihat tumpahan air mirip sperma. Melihat ada kejanggalan di diri anaknya, ayah korban mempertanyakan kondisi anaknya itu. Dengan polos korban mengaku kalau ia sudah digituin oleh seorang kakek.

Bagai disambar petir, pengakuan Bunga itu benar-benar membuat orang tua korban jadi tak tentu arah. Bermacam rasa, marah, kesal dan sedih, bercampur jadi satu. Tanpa berlama-lama, orang tua korban kemudian melaporkan kasus itu ke polisi setempat. =MXO

Didampingi Paman, Lapor ke KPAID
MESKI tersangkanya sudah ditangkap, keluarga korban pencabulan masih juga belum puas. Agar mendapat perlindungan, korban yang didampingi pamannya, Afrizal (21) melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Pekanbaru, Selasa (1/12).

‘’Kedatangan kami ini bermaksud minta perlindungan,’’ ujar Afrizal ke Pekanbaru MX kemarin. Sementara Ketua KPAID Pekanbaru dr Ekmal Rusdy didampingi Ketua Pokja Pengaduan Juliantoni SPi sangat menyayangkan peristiwa ini. Belakangan ini, kasus pencabulan terhadap anak kian menonjol. Pelakunya tetap orang-orang yang terdekat.

Dikatakannya juga, pihaknya akan mendampingi kasus itu hingga akhir proses hukum. Kasusnya akan terus dikawal. ‘’Semua unsur pidana terpenuhi. Ini bukan delik aduan, namun murni tindak kriminal. Kami akan mendampingi korban hingga berjalannya pross hukum,’’ sebutnya.  =MXO

   
Send to friend
Related articles

Komentar  RSS feed comment
 

 


Menambah Komentar
Nama
E-mail
Judul  
Comment
 
Maksimal Karakter: 600
   Konfirmasi ke E-Mail
   
   

Tidak ada komentar



mXcomment 1.0.9 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelum   Berikut >